Renungan Bagi Kita yang Lupa Zakat

Siang itu, Roy (samaran) seorang professional muda yang bekerja disebuah perusahaan media cetak datang ke kantor Lembaga Zakat. Dengan semangat 45 ia datang untuk menunaikan zakat. Hari itu Roy datang tidak seperti biasanya, dia datang diawal bulan, biasanya Roy rutin akhir bulan sudah menunaikan zakat. Setalah zakat tertunaikan Roy cerita dengan serunya, Roy baru saja kehilangan uang 10 juta rupiah gara-gara menunda zakat. Begini ceritanya.

Terbersit dalam hati Roy, pengen sekali beli motor sport bekas. Selain mendapatkan penghasilan dari gaji bulanan, ia juga punya bisnis bersama teman-temannya menjual onderdil dan sepeda pixi yang lagi ngetrend saat itu. Ternyata ia mendapatkan keuntungan yang luar biasa karena saat itu sepeda pxi sedang digandrungi anak-anak muda.

Roy benar-benar sedang berkatong tebal, gaji sudah ditangan dan keuntungan bisnis sudah memenuhi rekening tabungannya. Masih muda, pegang duit banyak, belum punya istri juga, waaaah maka pikirannya melayang untuk beli kendaraan. Masih alhamdulllah sih nggak kepikiran tentang kemaksiatan he.. he.. Bolak balik Roy ngari-nyari motor yang bagus dideretan iklan baris di koran itu. Walau ia sudah punya mobil dan motor tapi Roy kepengen lagi untuk 1 motor lagi.

Mata Roy tertuju kepada iklan-iklan motor, setelah disisir iklan tersebut dari halaman ke halaman, ternyata tidak menemukan motor yang diidam-idamkan. Koran ditutup dan ditaruh diatas meja, nggak lama kemudian pikirannya berkata kalo nggak ada motor kenapa nggak cari mobil aja mumpung sudah ada korannya, toh isinya komplit, ada iklan motor ada iklan mobil. Diambilnya lagi koran yang sudah ditutup itu dan kembali dibuka-buka. Pandangannnya tertuju kepada sebuah iklan mobil yang sangat menggiurkan.

Ada mobil mewah dijual murah, maka spontan Roy mengambil hand phone nya untuk mengontak nomor telpon yang ada diiklan tersebut.

(+) Halo, bener pak ini dengan yang jual mobil mewah harga murah..?

(-) Betul pak, bisa dibantu..?

(+) Itu mobil sudah ada yang mau apa belum..?

(-) Kebetulan belum pak..

(+) Harganya bener tuh segitu..?

(-) Betul pak, Bapak berminat..? Kalo berminat harus cepet pak, soalnya sudah banyak yang nanyain.

(+) Oooo gitu ya, kalo gitu dimana alamatnya..? saya segera kesana, kalo bisa jangan dikasih siapa-siapa ya.

(-) Baik pak, kita ketemu dibelakang rumah sakit Bekasi ya, tapi harus sekarang pak, kalo nggak keburu dibeli sama orang lain.

(+) Oke-oke saya kesana sekarang, tolong jangan dilepas ke orang lain ya.

Roy langsung tancap gas, mengunakan mobil miliknya. Izin dari kantor mau beli mobil mewah harga murah yang berlokasi di Bekasi. Ia kebayang dengan mobil mewah harga murah itu, ia bisa jual dan akan mendapat keuntungan lumayan besar. Soalnya ada temannya yang nyari mobil seperti itu. Lagi-lagi otak bisnisnya jalan, Roy mencoba ntuk mendapatkan harga murah dan kemudiaan dijual lagi dengan harga normal dengan harapan akan dapat keuntungan, sehingga uangnya akan bertambah lagi.

Sambil melakukan perjalanan menuju ke Bekasi ia menelpon sahabatnya untuk ditawarin mobil yang akan dibelinya itu. Temannya pun tertarik, bahkan ditawarkan dengan harga tinggi juga mau. Roy sudah kebayang berapa keuntungan yang akan ia peroleh. Dalam keceriaan itu, ia ditelpon sang pemilik mobil mewah yang ada di iklan Koran itu.

(-) Pak jadi ambil mobil saya..?

(+) Jadi, jangan dilepas kesiapa-siapa-siapa ya.

(-) Tapi ini suda ada yang nawar, gimana pak..?

(+) Jangaaaaan, jangan dilepas, buat saya aja..

(-) Kalo gitu kasih DP nya dulu dong pak, biar kita nggak jual ke orang lain.

(+) Oke kalo gitu saya mampir ATM dulu ya, sebentar ya, saya mapir ATM dulu.

(-) Baik pak, transfer sekarang ya pak.

(+) Okay saya transfer sekarang nih sudah deket ATM.

Kemudian sang pemilik mobil itu memberikan nomor rekening bank dan Roy pun segera mentransfernya.

(+) Hallo.. Pak saya sudah transfer ya..

(-) Berapa pak..?

(+) Barusan saya transfer 5 jt. Cukupkan..? Pokoknya jangan dilepas sama orang lain ya..

(-) Wah kalo segitu kurang pak, kan mobilnya mewah, masak ditransfer 5 juta doang.

(+) Trus berapa dong..?

(-) Tambah 5 juta lagi lah pak, kalo Bapak tambah 5 juta lagi saya jamin nggak saya kasih ke orang lain.

(+) Okey saya balik ke ATM lagi, saya tambah 5 juta ya. Tapi bener lho ya jangan dilepas ke orang lain.

(-) Baik pak..

Roy kembali lagi ke ATM karena yang ditransfer kurang, Roy menambahkan lagi 5 juta sehingga jumlah yang ditransfer sebagai DP sebesar 10 juta rupiah. Roy tancap gas lagi menuju tempat yang dijanjikan. Diperjalanan, temen yang berminat beli mobil sudah menelponnya lagi untuk segera bisa diantar mobilnya ke rumah. Waaaaaaaah dah kebayang tuh keuntungannya. Ambil mobil bayar murah, langsung dijual harga tingga.. “Sehari bisa dapet untung banyak nih”, katanya dalam hati. Roy semangat bahkan ngebut agar segera sampai di lokasi.

Mendekati lokasi yang dijanjikan, Roy menelpon pemilik mobil itu dan ternyata HP nya sudah tidak bisa dihubungi. Roy ulang lagi berkali-kali dan ternyata bener-bener tidak bisa dihubungi lagi. Roy masih berbaik sangka, mungkin lagi onlin, maka ditelpon lagi, dan ternyata berkali-kali di telp hp benar-benar tidak bisa dihubungi lagi. Menit ke menit, jam ke jam Roy menunggu ditempat yang dijanjikan ternyata tidak ada. Roy masih tunggu mungkin masih dalam perjalanan, ternyata bener-bener nggak datang dan tidak bisa dihubungi lagi. Masya Allah..

Baru kemudia dia sadar, bahwa ia telah tertipu. Belum pernah ketemu orangnya dan belum lihat mobilnya tapi sudah berani transfer 10 juta rupiah. Masya Allah dalam kekesalnnya ia bilang, ”Kenapa gua baru sadar ya, kenapa gue bego ya, kenapa.. kenapa.. kenapa..?”

Uang 10 juta lewat, karena tertipu.. Ia merenung, kenapa nih pagi-pagi dah kayak orang bego, dari pengen motor jadi pengen mobil, ketemu mobil harga murah dan ditawarin ke temennya langsung mau,, eeee malah ketipu, pengennya untung malah buntung. Masya Allah.

Lalu ia bertestimoni, “kayaknya Allah nguji saya nih, gara-gara saya nunda-nunda zakat, uang lagi banyak, keuntungan bisnis lagi oke, gaji ditangan , kantong tebel, tapi saya bilang Zakatnya ntar aja. Ternyata Allah ambil uang saya dengan cara tertipu”.

Setelah itu dia kapok untuk nunda-nunda zakat, pokonya setelah gajian langsung beresin zakatnya, setelah dapat kentungan langsung keluarin zakatnya. Padaha kalo dihitung bayar zakatnya harusnya nggak sebanyak itu tapi karena menunda zakat maka Allah ambil dengan cara paksa dan jauh lebih besar dari yang seharusnya dikeluarkan sebagi zakat.

(Disunting dari tulisan Anwar Sani)

Iklan

Tentang samsul maarif

Berubah kali ini
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s